Kopdar #2: Suatu Malam di Warung “Mbak Butet”

#

Gegara siang itu posting foto-foto kopdar dengan
Hengki Kumayandi, beberapa kawan PNBB yang lain
terbakar, hahaha. Si pengantin baru, Kak Evatya
Luna (aku lebih suka menuliskannya ‘Kak Luna’
saja)sampai-sampai bilang, tidak terima kalo sampe
gak ketemuan, soalnya dia lebih deket dibanding jarak kopdarku dan Hengki. Tebet – Bekasi : Bogor –
Bekasi. Ya, kan? “Pokoknya kita harus ketemu, Uni!” kurang lebih
demikian komentarnya lewat facebook.
Semangatnya jelas membakarku yang sudah
kepikiran pasti akan heboh sekali. Di dunia maya aja
bisa hebooh banget, masa di dunia nyata enggak?
Lewat WA kami pun mencari jadwal. Aih, sore tak bisa. Malam bagaimana? Yuhuuu, Bang setuju. “Mpok Elly sudah pulang dari Mekkah, Uni. Kita
kopdar di kedainya aja, bisa lesehan … warung Mbak
Butet. Alamatnya nanti tanya Astry …”
Astry Anjani? Penulis buku puisi Perempuan
Pemintal Hujan yang pernah mengadu nasib di luar
negeri. Ohoii! Sepertinya makin seru rencana ini. Sementara yang disebut Mpok Elly adalah Elly Lubis
yang biasa kusapa; Bunda, si empunya Warung
Mbak Butet. Sore hari, ponselku berdering. Tertera nama Kak
Luna. Aku tersenyum, inilah kali pertama kami
mendengar suara masing-masing.
“Assalamu’alaiku, Kak Luna …” sapaku. Terdengar
jawaban salam diiringi derai tawa ceria.
“Astaga, Uni, ini beneran dirimu? Kok suaranya macam ABG 17 tahun-an,” komentar Kak Luna
selanjutnya. Aku dibuatnya ngakak guling-guling
bambu. Kak Luna memastikan apa aku bisa kopdar
malam ini, dan ia pun memberitahu alamat tujuan. Malam, 7 Mei 2014, Kali Malang …, Jalan Raya Kali Malang, Warung Mbak Butet. Di
sanalah janji temu kami nanti; aku, Bang dan Kak
Luna bersama suaminya yang juga dedengkot PNBB,
Bambang Iqbal (lebih sering disapa Ojan–
OmJangkung), Bunda Elly, Mbak Astry, dan Om
Akung Krisna (bos Siomay Onlen). Usai Isya, dengan menumpang taksi, aku dan Bang
menuju alamat yang dijelaskan Mbak Astry lewat
WA. Takut salah jalan kalau naik angkot, lagian
Mbak Astry bilang tidak terlalu jauh. Holand Bakery di sebelah kanan jalan, didekat
lampu merah Caman, itulah yang kutandai. Artinya
kami harus pindah ke seberang jalan nantinya.
Awalnya terasa lama, sampai akhirnya terlihat
Holand Bakery. Di pelataran parkir ruko deretan
Holand Bakery paling ujung terlihat sebuah lapak baru saja di gelar. Hujan baru saja usai, aku dan Bang menembus
keremangan pinggir jalan menuju cahaya yang
sedang sibuk. Masih sepi. Raut seorang perempuan
pemintal hujan sudah tercetak dalam memoriku
sejak ia menjadi cover di novel Laila karya Ugan
Abrar. Seseorang terlihat sibuk di balik meja, wajahnya yang terbungkus jilbab serta merta
menoleh padaku yang berdiri di belakangnya. Kami
tersenyum. Cantik sekali perempuan pemintal hujan
itu, duhai. Kami berpelukan dalam tawa. Erat.
“Waah … akhirnya bisa ketemu juga. Ayo, duduk
dulu Mbak Onie,” itu suara Mbak Astry. Rupanya Warung Mbak Butet ini dikelola Bunda Elly bersama
Mbak Astry. Aku membiarkan Mbak Astry
menyiapkan warungnya. Satu perempuan telah
kutemui. Kali ini, agak telat sebenarnya mereka membuka
warung tenda, lantai untuk menggelar lesehan
terkena tempias hujan yang baru usai. Mbak Astry
sibuk berbenah, aku sibuk menandai kendaraan
yang lewat ditemani Bang, sambil menjawab
tanyanya tentang kawan-kawan PNBB-ku. Siapa yang akan datang duluan? Kak Luna dan Ojan, atau
Bunda Elly, atau Om Akung? Sudah berkali-kali Mbak
Astry menawariku dan Bang untuk dibuatkan
minuman. Berkali-kali pula kujawab, nanti saja kita
bareng-bareng, Mbak Astry mengalah dan
melanjutkan pekerjaannya. Sebuah motor memasuki areal parkir, mataku
otomatis mengikutinya. Karena orang dibalik helm
itu sepertinya sedari tadi sudah dada-dadah padaku,
haha. Sepasang insan berbaju merah. Kak Luna dan
Ojan Iqbal (ketika bertemu sebenarnya agak
sungkan memanggil Ojan pada Gus ini, hehe). Sesaat gempa di Warung Mbak Butet, sebab aku dan Kak
Luna macam anak-anak yang menemukan
mainannya kembali. Tak penat mataku melotot pada
perempuan berparas (mirip) Arab itu. Hihihi,
rupanya Kak Luna yang dulu domisili di Surabya ini,
beneran asli turunan Arab tulen (tanpa campuran). “Tapi posturnya Indonesia, Uni.” Kami ngakak lagi. Apalagi begitu Bunda Elly datang seperti ninja(pake
masker, gegara flu). Dunia heboh tak terkira. Lama-
lama Bunda Elly gerah juga dan membuka
maskernya. “Ternyata ngakak bareng kalian bikin
flu gue pergi.” Hahaha. Bang dan Ojan? Hehehe, mereka adalah lelaki-lelaki
kalem yang jadi objek pembicaraan, nimbrung
menambah derai tawa kami. Sesekali Mbak Astry
gabung bersama. Kali lain ia harus melayani pembeli.
Wedang ronde, ketan susu, nasi kucing, dan lauk
pauknya terhidang di hadapan. “Orang Minang kalo blom makan nasi, makan apa
aja tetep dia bilang blom makan,” kelakar Bunda Elly.
Beneeerr banget! Bunda Elly mulai sibuk dengan
makanan di hadapannya. Tiba-tiba si Bunda
nyeletuk, “Eh, sorry-sorry aja niy ya, yang laper
makan! gue kalo udah liat makanan gak ingat orang. Tanya aja Eva, nasi kotak jatah makan malam
dia satu-satunya, gue abisin. Terakhir baru gue
tanya, apa dia udah makan. Hahaha, si Eva senyam
senyum jawab belom. Gue nawarin kan buat bedua
tadi, Mpok, tapi liat Mpok lahap banget jadi gak tega,
katanya. Wkwkwkw … astagaaa! Padahal hari itu dia puasa.” Perempuan blasteran Minang-Batak pemilik
Travel Akbar (haji & umroh) itu membuat kami
terpingkal tak berkesudahan, keasyikanku
menikmati hangatnya wedang ronde terpenggal,
untung gak keselek. Capek ketawa, sesaat
kemudian, aku sibuk dengan nasi kucing. Psstt … itu pertama kali aku makan nasi kucing, lho. O, iya, hampir lupa … Om Akung! Bos Siomay Onlen
itu tidak bisa datag karena harus menemani istei
tercinta yang sedang sakit. Semoga Tante Merry
cepat sembuh ya, Om, dan suatu hari kita bisa
ketemu. Malam larut di jalan raya Kali Malang. Derai tawa kami
belum jua berhenti. Pertemuan Kak Luna dan Ojan,
serta bagaimana jodoh itu mewujud dengan ajaib
lewat mimpi ayah Kak Luna yang belum sekalipun
bertemu Ojan tapi melihat laki-laki itu dalam
mimpinya, membuatku melihat indahnya hubungan ayah dan anak itu. Sesiapa saja comblang mereka
pun terbongkar sudah, bahkan sesuatu yang sangat
rahasia tentang mendapatkan Masjid Al-Azhar
sebagai tempat nikah mereka, dibongkar Bunda Elly,
yang memaksa Kak Luna akhirnya bercerita di
antara derai tawa. Cerita Mbak Astry yang tanpa SIM berkendara di jalanan ibukota ketika masih menjadi
warga baru membuatku sedikit merinding. Bunda
Elly? Sejak mengenal dan membacanya di facebook,
aku yakin dia perempuan perkasa, hehe. Kau tahu,
indah sekali melihat hubungan persaudaraan yang
dijalinnya bersama Kak Luna dan Mbak Astry. Berkali-kali kudulang syukur karena telah mengenal
mereka. Ibukota sepertinya memang tak pernah tidur. Tak
disadari sudah hampir dini hari. Saatnya pulang,
Kawan. Untuk ke sekian kalinya kami berpelukan
erat. Cipika-cipiki. Bang dan Ojan berjabat erat saling
merangkul. Pamit. Entah kapan kan bersua lagi, tapi
semoga selalu ada waktu. Terima kasih untuk bingkisan, makanan, dan
persaudaraannya, Kak Luna dan Ojan, Bunda Elly,
dan Mbak Astry. Sampai bertemu lagi. Diceritakan dari,
Rumah Akasia, 8 Juni 2014 *banyak yang terlupa jadi dah diedit berkali-kali,
haha.

Kopdar #1 : Lelaki Yang Datang Dengan Kereta

#

Jakarta, 7 Mei 2014

Sebuah SMS masuk ke ponselku pagi itu. Dari seorang bujang lajang yang belum pernah kutemui.

“Assalamualaikum Uni Onie, apakah hari ini masih di Bekasi? Saya lagi libur hari ini, boleh kopdaran sama Uni di Bekasi?” (sebenarnya ia menulis namanya, hehe)

Demikian SMS awalnya yang kusambut dengan antusias. Kuberitahu Bang, bisakah kita bertemu seseorang hari ini? Ya, hari ini kami tidak punya janji dengan duo ponakan, kecuali menjemputnya sekolah. OK, itu kode dari Bang.

Maka pagi itu sambil keliling komplek perumahan, kami survei tempat yang asyik dijadikan tempat nongkrong nanti. Maklum, begitu sampai di Jakarta akhir April lalu dan meluncur ke Bekasi semua tempat yang kami kunjungi atas rekomendasi kakak ipar. Mereka benar-benar membuat kami liburan. Tiada hari tanpa bepergian, selalu pulang malam. Duo ponakan yang mengatur jadwalnya, mereka tulis di kertas, kemudian memintaku dan Oom-nya tanda tangan. Maklum (lagi), sudah hampir empat tahun kami tak bertemu.

Dalam beberapa hari, daftar di kertas itu sudah tercentang semua. Dan sungguh waktu yang tepat ketika SMS itu masuk di pagi itu. Ayo kita kopdar!

Apakah sekarang dirimu lagi di Jakarta? Sempat kutanya demikian padanya. Tidak, Uni, katanya.

“Saya dari Bogor naik kereta menuju Stasiun Bekasi,” sebuah SMS lagi.

Hah! Bukankah itu jauh? Demi sebuah pertemuan yang entah kapan lagi akan terjadi, ia melipat waktu mempersingkat jarakku dan Bang yang tak tahu jalan, ibu kota layaknya hutan rimba bagi kami. Menyesatkan. Aku dan Bang geleng-geleng kepala. Salut.

Lelaki itu sebenarnya belum lama kembali ke Indonesia. Selama ini ia tinggal; melanjutkan sekolah dan bekerja, di negeri tetangga, Kuching-Serawak, Malaysia.

Aku mengenalnya ketika sama-sama tergabung di grup menulis facebook, PNBB. Sewaktu ada proyek nulis bareng ataupun masih banyak PR yang mesti dikerjakan dari kelas, ia sering mengganggu kotak pesanku, “Uni, tolong diposting tulisanku, dong. Maklum gak bisa ke dokumen grup kalo dari hape,” demikianlah, waktu itu Zetta, laptopku yang sudah tua masih berjaya untuk berselancar di dunia maya. Kemudian aku sering membaca tulisan-tulisannya di notes facebook. Semakin hari ia semakin getol kelihatannya dengan dunia aksara. Sampai suatu hari di kelas PNBB ada pengumuman, bahwa salah satu novelnya yang berbentuk ebook gratis akan naik cetak lewat penerbit mayor. Kau akan menasional! Aku bersorak di kolom komentar, dan dia terbahak mendengar istilahku. Ya, menurutku yang masih awam dengan dunia penerbitan, penerbit mayor itu sekelas dengan tingkat nasional dalam lomba-komba. Penerbit minor setingkat kecamatan atau kabupaten gitu, hehe, jangan marah … jangan maraah.

Kembali pada lelaki yang akan datang dengan kereta ini. Waktu hampir mendekati. Di sebuah cafe, aku dan Bang sudah menunggu. HEMA, nama tempat itu, terletak di komplek perbelanjaan Kemang Pratama Bekasi. Hmm … sepertinya kok malah kyak singkatan nama seseorang yang sedang kami tunggu, ya? Ya, pasti cocok sekali.

Tak lama ia mengabariku, bahwa ia sudah turun dari kereta dan menuju ke tempat kami janjian. Aih, kau tahu, Kawan … ini kopdar pertamaku dengan seseorang dari dunia maya (selain sanak keluarga).

Di teras HEMA aku melihat seorang laki-laki berkupluk dengan ransel di punggung sedang berjalan ke arahku sambil berteleponan, pastilah suaranya yang keluar dari ponselku ini. Aku yakin sekali itu dia! Ketika mata kami bertemu, tak ayal gelak tawalah yang pecah. Jabat tangan yang erat, dan sesuatu yang ditentengnya sedari tadi diserahkannya padaku. Roti unyil. Haha, sebentar lagi dia akan tau kalo aku tukang makan.

Kubawa ia pada Bang yang menunggu di dalam ruangan. Semua terasa tak asing, macam bertemu kawan lama yang terpisah sekian tahun. Kami saling bercerita sambil menunggu makanan yang dipesan tiba. Berkali-kali kuyakinkan diri, bahwa kami benar-benar telah bertemu. Senyumnya yang malu-malu dan kesederhanaannya mengingatkanku pada seorang gadis yang juga dikenal lelaki ini, dan sama-sama belum pernah kami temui. Sesekali ia masuk dalam pembicaraan. “Ya, dia teman bicara yang menyenangkan ya, Uni. Semua masalah seolah sirna kalau sudah bercerita dengannya.” Lelaki itu berkata, aku mengaminkan dengan senyum di wajah.

Sekarang, lelaki ini memutuskan menetap di Indonesia. Sejak novelnya launching ia disibukkan dengan berbagai hal. Ada beberapa tawaran mengajar yang datang padanya, tapi terpaksa ia tolak dan memilih bekerja di penerbit. 3 penerbit sekaligus! Alamak, dia membuatku melongo.

Begitu makanan kami datang, tawanya berderai melihat pesananku. Ssttt … bukankah ini rahasia kita saja?

Waktu terasa cepat berlalu, bahkan ketika Bang pamit untuk menjemput seorang keponakan dari sekolahnya dan kembali lagi, cerita kami masih tak putus-putus. Avin, keponakanku pun cepat akrab dengannya. Sayang Rifa, kakak Avin, masih di sekolah. Namun demikian, lelaki ini menitipkan novelnya sebagai hadiah untuk Rifa. Swear! Gadis 10 tahun itu senang sekali, apalagi ditandatangani oleh penulisnya langsung. Rifa melahapnya sampai tuntas dalam dua hari. “Ceritanya asyik, Tante.” Lapornya kemudian padaku.

Dan pertemuan pun harus berakhir. Lelaki ini harus kembali melanjutkan perjalanannya. Semoga suatu hari kita ketemu lagi, kata Bang bersemangat. Salam perpisahan pun terjadi. Eits, jangan lupa mengabadikan momen ini dalam kamera. Cheess! Hihihi.

Terima kasih atas kopdar yang menyenangkan, Hengki. Ya, lelaki yang datang dengan kereta itu adalah Hengki Kumayandi, penulis novel Tell Your Father I Am Moslem yang sudah terjual 3000an eksemplar. Ia juga jadi kepsek keren di sebuah grup menulis, KOBIMO. Sukses selalu Hengki! Dan mengenai personal literatur yang kau gambarkan padaku, akan kupikirkan nanti, hehe.

Kau yang selama ini (merasa) bernaung di bawah rasi Gemini, selamat menemukan Taurus di dalam dirimu.

Diceritakan dari,
Rumah Akasia, 8 Juni 2014

*lumayan bikin jempol tepar ngetik di hape 😀
* eh, bener kan HEMA tempat kita ketemuan itu cocok untuk singkatan namamu, hehe. HEngki kuMAyandi. #maksa.

#OnieDaulat
#KopDar

Journey#1: Niat Prapat, Berjodoh Rupat?

Alkisah setahun yang lalu…

Sebuah rencana yang digadang-gadang bisa mengikutsertakan diriku telah diumumkan. Yihaa! Aku bersorak kegirangan, akhirnya kesempatan mengunjungi danau terbesar di Asia Tenggara itu akan terwujud. Betoel! Lewat program jalan-jalan dari kantor Bang, mari merapat ke Prapat, menikmati Danau Toba dan menyebrang ke Pulau Samosir. So, para peserta pun berkemas. Sore hari nanti dengan sebuah bus dan beberapa mobil Ranger, perjalanan menuju Sumatera Utara ini akan dimulai. Namun apa mau dikata, setelah semua persiapan selesai, sore sudah menjelang, penantian itu berbuah kegagalan. Baiklah, mungkin belum ditakdirkan menikmati indahnya Danau Toba. Dan koper berisi segala macam persiapanku pun menjadi bahan candaan oleh Bang, sementara aku manyun seperti ikan buntal.

***

Tahun ini lewat program serupa, harapan itu datang untuk kedua kalinya. Sumatera Utara memanggil lagi! Ahai! Terbayang lagi angan serupa. Namun kali ini aku tidak mau bersiap lebih awal seperti tahun lalu. Kabar ini harus betul-betul pasti. Kalo pun kepastian itu datang dalam waktu yang kepepet, maka segala perlengkapan cukup masuk ransel saja, tidak usah koper-koperan seperti dulu.

Pagi hari, Rabu 8 Mei 2013

Kepastian itu datang. Senyum Bang manis sekali seusai briefing saat kembali ke mess memberitahuku, “Dek, batal lagi berangkatnya… Kabarnya diundur. Sorry ya, Dek…”. Aku? Tersenyum tak kalah manisnya, sebab senyum manis Bang tadi sudah sebuah sinyal (batal) bagiku. Untung belum berkemas, nasib… nasib… Apa kabar yang sudah bersiap dan bela-belain ngantor bermotor-matic-ria dari Kota Pekanbaru sana? Haha… Ups!

Setelah betul batal di pagi itu, Bang dkk kembali bekerja seperti biasa. Ternyata siang hari harapan itu kembali muncul. Kali ini dua orang teman Bang yang sudah terlanjur bersiap, sudah terlanjur mengambil cuti, nekad mengajak dengan biaya pribadi. Rental mobil solusinya. Saking sayang isteri, demi ingin membawaku yang belum pernah sekalipun merekam jejak di Sumatera Utara, Bang menyetujui. Maka mereka pun mengurus beberapa hal yang menjadi rintangan. Satu-persatu rintangan teratasi. Berempat kami akan tetap bergerak. Toba dan seperangkat keindahannya seperti yang pernah diceritakan Bang yang sudah dua kali berkunjung ke sana seolah kembali menyata. Keraguan akan kegagalan (lagi) mulai menipis. Di akhir cerita sesuatu terjadi, motor matic yang dibawa teman Bang sejatinya harus –tidak boleh tidak– sampai di hari Jumat di Kota Pekanbaru. Sementara seseorang yang dititipi untuk membawa kembali motor itu telah terlanjur kembali ke Kota Pekanbaru, tanpa mengetahui Plan B yang telah kami buat. Motor matic ini adalah kendaraan kerja isteri si Bapak, jadi bisa berabe urusannya jika nekad ke Toba. “Wah, kalo kita tetap berangkat ke Toba tanpa motor ini sampai ke rumah, bisa-bisa saya urusannya dengan polisi Toba di rumah…” (Bukankah itu lebih gaswat? Hahaha…). Murni. Rencana merapat ke Prapat, gagal untuk kedua kalinya.

Jelang Malam di Mess…

Sore berlalu. Tak ada bus yang membawa kami ke tujuan semula. Tak ada juga mobil rental yang meloloskan keinginan kami. Empat orang dalam Plan B tadi, kini tinggal bertiga. Seusai Isya, ketika lesehan bersama tetangga berbagai pembicaraan mengalir, pun tak lupa (ter)bahas kegagalan keberangkatan sore itu. Pembahasan berakhir pada ‘ya sudahlah…’ Toh, kalaulah dipaksakan juga, apa tah baik jadinya? Mungkin berjodoh di lain waktu.

Tersebutlah seorang Yudi bergelar Reptyl Panthera, salah satu yang menggagas perentalan mobil tadi. Sejatinya kegagalan kali ini efek terberatnya ada padaku dan dia, sebab kami belum sekalipun menginjakkan kaki di sana, sementara yang lain adalah sekedar mengulang kenangan. Usianya yang jauuh lebih muda dari kami sepertinya mempengaruhi besar minatnya yang amat sangat akan berbagai macam perjalanan –apalagi tempat yang belum pernah dikunjungi, termasuk kali ini. Sudah bukan cerita baru, jika di akhir minggu dia menghilang dari mess dan kemudian di profil blackberry-nya Bang melihatnya sudah berada di puncak Gunung Singgalang – Sumatera Barat. Atau di lain waktu dia bercerita bahwa dia sudah melakukan penjelajahan ke Harau Payakumbuh – Sumatera Barat, seorang diri. Sundanis satu ini gila petualang ke tempat baru, tak peduli seorang diri.

Malam itu demikian pula ceritanya pada Bang, beberapa tempat dikira-kira akan dikunjunginya. Kisaran – Sumatera Utara, Yudi dan Bang browsing di internet. Hmm… ada arung jeramnya, seru. Aku mau ikut, Bang setuju. Tapi begitu ditelusuri lebih jauh, peralatan harus sedia sendiri. Bah, kami tak punya. Kisaran dicoret dari list. Pulau Rupat disebut selintas, tapi bukan opsi yang menarik, sebab masih deket-deket Dumai sini, tak ada pantai menarik toh di Riau ini. Akhir kata…

“Aku mau ke Padang aja, Bang. Dulu itu baru nyampe Bukittinggi. Cuti udah terlanjur diambil. Besok, pinjem kamera ya…”

Kalo Padang, aku tidak berminat, pulang kampung lagi donk, hehe….

“Kalo betul pengen ke Padang, lanjut aja ke Painan-Pesisir Selatan. Kak On punya sepupu di sana, mudah-mudahan bisa nemenin. Ntar tak telepon….” Aku merekomendasikan kampung halaman. Maka usai sudah pembicaraan malam itu.

Pagi hari, Kamis 9 Mei 2013

Malam itu hujan turun sangat deras di bumi akasia. Tidur tetap nyenyak lelap sambil sesekali di-intermezzo bayangan Toba yang menggiurkan. Mungkin ngorok pun sudah bercampur dengan igauan-igauan tak jelas.

Bangun di pagi hari, kembali menyadari sesuatu. Harapan yang hilang itu. Ya, begitulah namanya kekecewaan. Walaupun telah diikhlaskan, dalam beberapa masa tetap saja menyisakan ingatan-ingatan akan kegagalan pengharapan. Dulu, ketika Bang melakukan perjalanan –dua kali– ke Danau Toba dan sekitarnya, di jam pagi seperti ini aku dikabari bahwa mereka sedang menunggu kapal untuk berlayar ke Pulau Samosir bersama rombongan. Sekarang, kami masih di Rumah Akasia. Maka, di pagi bertanggalan merah itu aku kembali lenyeh-lenyeh di depan tivi. Bang, mengantar kamera digital ke tempat Yudi. Hmm, sungguh liburan yang lumayan panjang di akhir minggu ini.

Selepas hujan malam tadi, sepertinya cuaca pagi ini bagus. Namun tak pelak pastilah jalanan tanah 17 km menuju persimpangan jalan raya itu, becek luar biasa. Ngeri-ngeri sedaplah jika berkendara dengan motor. Mungkin memang sebaiknya menikmati liburan ini di mess saja.

Entah apa yang ditayangkan tivi pagi itu, yang terasa mataku mulai berat lagi. Di antara ada dan tiada terdengar suara bukan Bang di depan pintu. Siapakah gerangan? Keliyengan aku mencari-cari kerudung sorong berwarna merah. Begitu dikenakan aku membuka pintu. Hoo, Yudi, lengkap dengan atribut jelajahnya.

“Abang mana, Kak?” Aku diserobot pertanyaan.

“Lho, bukannya tadi ngantar kamera?”

“Hehe, ada yang mo dipinjem lagi. Helm…” Yudi nyengir dan membiarkanku berlalu ke dalam mengambil helm. Bukannya di kepalanya itu udah ada helm?

Begitu menyodorkan helm, dua sosok lajangers lain juga muncul di mess paling ujung. Sepertinya akan berangkat bersama. Timbuk keherananku. Bukannya Yudi akan berangkat bersama seorang dari mereka saja, apa keduanya ikut juga? Jurian dan Is. Ah, pikiranku merusuh saja.

“Ntar kalo jadi ke Pesisir Selatan-nya, kasih tau ya, Yud. Biar Kakak telepon sepupu yang tinggal di sana…” kembali kuingatkan rekomendasi semalam.

“Lah, kami gak jadi ke Padang, Kak….” penjelasan Yudi membuatku melongo penuh tanya.

“Trusss?” pertanyaanku bertepatan dengan kemunculan Bang dari persimpangan mess.

“Kami mau ke Pulau Rupat.”

“Whooaaa… Abang, ayoklah kita ikut kalo ke Pulau Rupat.” Wajah kantukku hilang lenyap entah ditelan apa. Abang cengengesan. Sekali lagi dipastikannya pada Yudi. Jawaban ketua lajang itu tetap sama. Pulau Rupat.

“Kalau gitu, ayok berkemas, Dek…” Ultimatum Bang berlaku.

“Asyeeeeekkkk… Tunggu sebentar ya…”

“Siiipppp…” Kumpulan lajang itu tak menolak menunggu kami yang diburu gesa.

Nah, apa yang terjadi selanjutnya? Menyatakah perjalanan ke pulau yang satu pun di antara kami tiada yang pernah ke sana, pun informan yang kami miliki minim sama sekali. Tak ada pula yang kepikiran bakalan searching dulu di internet. Toh, pulau itu seolah ada dan tiada, hanya dikenal oleh segelintir orang. Jurian yang notabene makhluk kelahiran Riau, belum pernah sama sekali ke sana, apalagi dengan kami, si Sumbar, si Sunda dan si Jateng?

Namun demikian, bersiap dalam gesa itu, sungguh dengan semangat penuh. Begitu aku nongkrong di jok belakang motor hitam itu, baru kurasakan perjalanan ini memang telah dimulai…

Rumah Akasia, 20 Mei 2013

-Onie Daulat-